Tentang kau
dan aku
(KECIL KALI)
Ntah
kapan tepatnya aku pun tak terlalu mengingat kapan kau menyapaku terlebih
dahulu karena yang kutahu semuanya sudah aku hapus ntahlah semua karena emosi
yang selalu huffft aku rasa kau seakan menginginkan aku menjadi seseorang yang
harus marah.
Cerita
ini akan aku tuliskan walau tak sepanjang kisahku dengannya. Tapi kau tau, kau
termasuk dalam cerita yang awalnya aku tak ingin tulis sama seperti dia.
Sayangnya aku ingin menulis kisahmu dan agar aku mampu mengingatmu, karena
mungkin hanya dia yang tak akan pernah terhapus dari ingatanku.
Sebelum
cerita ini aku tulis tentang kau dan aku maka hal yang ingin aku katakan
terlebih dahulu adalah jikalau ada kata yang salah atau jalan ceritanya tak
sesuai dengan apa yang kau alami atau rasakan maka aku hanya ingin bilang bahwa
ini adalah tulisan dari sisi yang terjadi padaku.
“kak,
aku punya teman loh, mau ngak aku kenalkan” adikku melihat kearahku sambil
menanyakan hal yang aku rasa sebenarnya dia sudah tau apa yang akan aku jawab
“hmmm” aku hanya menghela nafasku “ayolah dicoba dulu, ngak ada salahnya,
ngapain lagi kau gini gini aja” aku tak tau apa yang difikirkan oleh adikku
tapi yang pasti dia sangat memahami kenapa aku memilih diam dan menghela nafas.
Dia terus melihat kearahku “ngak” tanpa fikir panjang aku langsung menjawab.
Tak
selesai sampai disitu dia tetap bersikeras ingin aku mengenal temannya itu
“ayolah, namanya luigi, kami manggilnya lui, anaknya baik kok, tampang ngak
jadi masalahlah kak” dia terus melihat kearahku yang sibuk mendengarkan musik
“ngak berani loh aku dek, kau taukan” aku hanya melihat dia sekilas “maksudnya
kau mau gini gini aja?” dia seakan marah keaku. Ya, aku juga ngak tau kenapa
dengan aku sekarang, masalah yang kualami membuat aku belum mau untuk mengenal
laki-laki lagi. Ntahlah, ntah sampai kapan yang jelas yang kutau dia yang
pernah sangat-sangat aku sayangi harus aku lepaskan begitu saja bukan tanpa
sebab dan bukan sebab yang sepele hanya saja aku sangat sulit menjelaskan rasa
sedih yang aku simpan sangat sangat lama.
“kak,
nomormu kukasi aja ya sama lui, biar kalian kenalan” dia tak putus asa
memintaku supaya mau membuka hati “aku belum mau dek” aku tak akan pernah
berani menatap wajahnya, karena dia pasti sangat kecewa “aku uda cerita sebagian
kok tentangmu dan dia mau, anaknya baik kok, kayaknya tanggung jawab gitu, mau
ya” kuberanikan melihat kearahnya “kenapa seh harus diceritain?” aku melihat
kearahnya “ya biar nanti ngak salah paham gitu” aku yang sedaritadi fokus
dengan lagu yang berulang yang kuputar di androidku “umur berapa?” tanyaku
memberanikan diriku “sama kayak aku kelahirannya” dia menjelaskan umur temannya
itu “matek, kecil kali” teriakku tanpa sadar sambil ketawa “sudahlah, yang dulu
juga tua sifatnya kayak bocah” adikku itu bergumam sendiri “hahaa… iya iya,
siapa kemarin namanya” tanyaku lagi “lui, namanya luigi” aku memicingkan mataku
“aneh ya namanya, ya udah kasilah nomorku” akhirnya adikku berhenti mendesakku.
Bukan
waktu yang lama kamu langsung chat keaku, ntah aku lupa apa isi chat pertamamu
yang jelas kamu hanya menyapaku, mungkin “hai” lama? ya bukan waktu yang
sebentarkan kau butuh balasan dariku. Aku tak berani untuk membalas chat darimu
karena aku hanya memikirkan hal yang negatif, mungkin saja kamu ingin mengenal
aku hanya ingin tau ceritaku lebih banyak. Hingga akhirnya aku membalas pesan
yang ada “iya, ini siapa” pura-pura aku bertanya padahal ketika masuk ke room
chat jelas-jelas namamu sudah tertera “aku lui, tau ngak?” awalnya aku merasa
kamu itu sok kePDan hingga aku menjawab “iya” itu kalau aku tak salah awal kita
memulai semuanya.
Aku
tak berharap banyak akan apa yang kau fikir dan rasa tentang aku. Kau yang
kukenal dengan sikap agresifmu yang awalnya membuat aku takut dan merasa risih,
aku hanya menyakinkan diriku ‘cobalah hai kau hati’ ya, itulah yang aku
fikirkan pertama sekali. Kita asik berbalas pesan, hingga aku mengetahui banyak
hal yang membuat aku terkejut akan siapa dirimu. Chat yang kau berikan padaku
membawa aku kemasa yang mungkin ngak pernah aku rasakan dimasa-masa remajaku
yang seharusnya aku dapat kata-kata darimu dimasa-masa sma atau kuliahku.
Aku
tak punya rasa apapun saat itu padamu karena aku tak mengenalmu dengan sangat
jelas, terkadang sifat dewasamu membuat aku benar-benar merasakan sosok yang
benar-benar baik buatku dan terkadang pula kau jadi sosok yang 180 derajat
berbanding terbalik, sifat kekanakanmu mau muncul mendadak yang terkadang
membuat aku merasa bersalah dan seakan kau ingin mengejekku.
Aku
tak mengingat banyak isi pesanmu padaku, hanya saja sebelum kita bertemu kau
sudah terlalu berani untuk memanggilku dengan sebutan sayang, babe, cinta dan
yang lainnya. Aku sangat risih dengan kata-katamu, tapi aku mencoba mengambil
sikap membiasakan kata-katamu itu beranggapan bahwa ini memang jamannya alay
yang seperti itu. Aku menikmati saat aku selalu sama-sama denganmu berbalas
pesan, hanya saja aku seakan merasa sesuatu membuat aku tak bisa semakin jauh
untuk mengenalmu. Aku takut kau mendekatiku dengan rasa penasaranmu semata, ntahlah,
ceritaku ini kubuat senatural mungkin dengan versi dari diriku.
Aku
mengikuti yang dimau adikku, membuatkan 1 lagi kacamata, kuberanikan diriku
datang kekantor (yang berketepatan pula sebuah mall), tempat adikkku bekerja
sekaligus kamu juga. Awalnya aku tak ingin bertemu denganmu, hanya saja saat
itu aku ingat sama isi chat yang kau berikan padaku,‘kalau sempat jalan-jalan
kekantor, tempat aku kerja ya’ ya itu satu chat yang membuat aku dengan cepat
menulis pesan padamu, hanya untuk mengatakan aku ada disini sekarang, sanagt
dekat denganmu.
Awal
pertemuan yang sangat aneh buatku, membayangkan aku bukanlah wanita diumur yang
dikatakan remaja lagi melainkan dewasa. Pertemuan yang membuat, akh ntahlah
ntah apa yang kurasakan saat itu tapi yang jelas aku mencoba mempositifkan tiap
apa yang kau lakukan padaku {membayar makanku, ya walaupun buat oranglain itu
hal sepele tapi buatku itu sangat berarti, memegang tanganku saat tanpa sengaja
ada orang yang ingin menyenggolku dan kau mengatakan ‘hati-hati’, saat itu ntah
apa yang masuk didalam hatiku, tapi dia seakan-akan sangat riang, seakan ingin
berlarian keluar}. Aku sangat senang, itu yang hanya bisa aku katakan padamu,
jika kau menanyakan apa yang kurasakan. Bercanda denganmu, dengan kekakuanku,
aku hanya menatapmu dan mendengar setiap kata yang kau bicarakan. Ntahlah,
hanya saja aku masih sangat susah membawamu masuk kedalam hidupku, aku hanya
takut, kau mendekatiku hanya karena kau sekedar penasaran padaku.
Selalu
tiap malam sekarang aku membiasakan diriku berbalas pesan chat denganmu, ntah,
tapi setiap saat itu pula aku merasa kau seakan ingin melihat aku marah, ngak
tau kenapa, tapi setiap pembicaraan kau seperti ingin aku kesal, marah atau
apalah itu. Sekalipun kucoba sebisa mungkin mendamaikan hatiku, tapi kau tetap
tak ingin berhenti. Apa yang salah dengan sikapku yang tak mampu bicara atau
marah sekalipun. Aku hanya mencoba buat yang terbaik padamu, karena kau juga
sudah membuat aku mencoba untuk percaya lagi dengan perasaan. Aku selalu sangat
menyukai memangil namamu dengan sangat lengkap sesaat setelah kamu mengatakan
namamu. Aku menyukai cara diriku sendiri memanggil namamu yang benar-benar aneh
kurasa. Hai kau, ntahlah aku tak tau apalagi yang ingin aku katakan tentangmu.
Bukan
hanya berbalas telfon, kita juga mulai memberikan respon yang baik dan aku
mulai berani untuk membuka hatiku. Telfon, video call, aku mencoba berani
dengan semuanya itu. Rayuan yang tiap malam kau berikan ke aku hingga aku mampu
menutup mataku dengan sangat larut. Aku dan dengan sikap kakuku mulai kuredakan
hanya karena ingin mengenalmu lebih dan mencoba berfikir positif ‘hufffttt…hai
hati, apa kau bahagia sekarang’, itu mungkin sekedar mantra buatku untuk menenangkan
hatiku. ‘Hai kau yang sudah mencoba memasuki perasaanku, apa yang fikirkan saat
ini tentangku, hmm apa?’.
Kau
mencuri perhatianku dipertemuan kedua kita, saat dimana aku sangat-sangat ingin
memulai semuanya dengan sangat natural, ya mungkin karena aku sangat ingin ada
yang menganggap aku benar-benar berbeda dan spesial baginya.
Belum
bertemu denganmu, aku serba salah, sampai penampilanku saja sangat kuatur, aku
takut kamu malah jadi aneh melihatku. Beberapa waktu denganmu dengan chat dan
telfon membuatku tersadar kau, seseorang yang tak menyukai oranglain yang tak
sesuai dengan dirimu, dan itu aku coba terima, ya lagi-lagi alasannya karena
aku sadar dengan diriku sendiri.
Menunggumu
cukup lama, hmmm bukan…, aku yang terlalu kecepatan saat itu, upsss… tapi kamu
juga telat, hampir saja aku memutuskan untuk balik. Hingga sebuah nomor tertera
dihandphoneku. Sangat aneh, semalam sebelumnya aku mengingatkan bahwa aku tak
mempunyai nomor handphonemu. Dengan cepat aku menjawab telfonmu ‘aku
disini’jelasku padamu. Hingga pertemuan terjadi, dari jauh aku sudah sangat
jelas melihatmu. Aku tak mengatakan padamukan aku sangat deg-degan, ya, aku
sangat salah tingkah, ini memang bukan pertemuan pertama kita, tapi ini
merupakan kencan pertama kita. Dengan salah tingkah aku berjalan kearahmu. Aku
tak berani melihatmu bukan… menatapmu, hehehehe… saat itu jantungku ngak
karuan, mungkin kamu merasa aku terlalu berlebihan, tapi ya ini yang kurasa.
Kencan
pertama dengan dirimu yang ntahlah saat itu ntah apa yang kau fikirkan
tentangku, aku hanya merasa aku bahagia. Jalan berdua denganmu, ini bukan
kencan pertamaku tapi ini sangat-sangat membuatku berbeda. Kau mencuri hatiku,
ntahlah awalnya aku merasa ini hanya pelampiasanku karena belum punya pacar atau
hanya sekedar aku ingin mencoba mencintai orang baru dengan diriku ya kuharap
juga baru.
Jalan
berdua denganmu, caramu memegangku saat aku mulai mempercepat jalanku, yang
padahal tanpa kau sadari aku sangat-sangat deg-degan, banyak yang sudah aku
pertanyakan dalam kepalaku~apalagi yang akan kami lakukan, apa yang harus aku
katakan, dan yang lainnya. Semua seakan tertumpuk dikepalaku~. Kita mencoba
mencari film apa yang akan kita tonton diawal pertemuan kita ini. Aku bukan
seseorang yang egois yang menuntut apapun yang ada dikepalaku. Film sudah kau
tentukan, kita hanya menunggu sambil bergurau dibangku bioskop. Awal yang cukup
aneh, aku dengan tingkahku kau dengan dirimu. Tapi aku mulai menyadari satu hal
dari dirimu, rasa humorismu yang membuat aku terkadang takut. Terkadang rasa
humorismu mendadak seperti sangat ingin menguasai, kita tertawa tapi kau
seperti ingin mengatakan, tahan ketawa, saat kau ingin bicara dan bilang ingin
mendengar ceritaku, tapi seakan tak ingin mendengar ceritaku. Tapi aku masih
sama dengan dina yang tak menggantungkan diriku dengan ego, aku hanya bisa
tersenyum dengan dirimu, seseorang yang semakin aku kenal semakin membuat aku
tak mengenal dirimu.
Ruang
bioskop yang ramai, kita mulai memasang wajah yang cukup tegang saat filmnya
mulai. Ngak salah dengan pilihan film darimu, aku menikmatinya. Aku mencoba
senyaman mungkin saat bersamamu. Aku menawarkan permen denganmu. Tapi apa kau
tau apa yang selalu aku fikirkan ‘siapa aku buatmu, sekedar temankah?,
kekasihkah? Atau aku hanya seseorang yang ikut dalam humormu saja’, itu sangat
menggangguku, tapi aku merasa kau sangat cuek saat itu. Tak apa, kutahan dulu,
mungkin kau akan sangat sulit menentukan hubungan antara dirimu dan dirimu, ya
lagi-lagi aku berfikir, semua karena statusku.
Saat
itu aku mencoba konsentrasi dengan film didepan mataku. Kusingkirkan jauh-jauh
saat itu perasaan dan fikiranku akan pertanyaanku. Aku tak ingin merusak kencan
pertamaku denganmu. Aku hanya ingin kencan pertama ini paling ngak bukan jadi
kencan terakhir denganmu.
Keluar
bioskop, huffftt, aku menghela nafas panjang, sukses. Aku seperti seleksi dan harus
melaksanakan setiap seleksi ini. Didepan kita berjalan pasangan yang kau
katakan cabe-cabean dan yang buatku itu malah membuatku jadi salah tingkah
denganmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar