Rabu, 27 Juli 2016

Rasaku (hai kecil kali)

Tentang kau dan aku
(KECIL KALI)

            Ntah kapan tepatnya aku pun tak terlalu mengingat kapan kau menyapaku terlebih dahulu karena yang kutahu semuanya sudah aku hapus ntahlah semua karena emosi yang selalu huffft aku rasa kau seakan menginginkan aku menjadi seseorang yang harus marah.
            Cerita ini akan aku tuliskan walau tak sepanjang kisahku dengannya. Tapi kau tau, kau termasuk dalam cerita yang awalnya aku tak ingin tulis sama seperti dia. Sayangnya aku ingin menulis kisahmu dan agar aku mampu mengingatmu, karena mungkin hanya dia yang tak akan pernah terhapus dari ingatanku.
            Sebelum cerita ini aku tulis tentang kau dan aku maka hal yang ingin aku katakan terlebih dahulu adalah jikalau ada kata yang salah atau jalan ceritanya tak sesuai dengan apa yang kau alami atau rasakan maka aku hanya ingin bilang bahwa ini adalah tulisan dari sisi yang terjadi padaku.

            “kak, aku punya teman loh, mau ngak aku kenalkan” adikku melihat kearahku sambil menanyakan hal yang aku rasa sebenarnya dia sudah tau apa yang akan aku jawab “hmmm” aku hanya menghela nafasku “ayolah dicoba dulu, ngak ada salahnya, ngapain lagi kau gini gini aja” aku tak tau apa yang difikirkan oleh adikku tapi yang pasti dia sangat memahami kenapa aku memilih diam dan menghela nafas. Dia terus melihat kearahku “ngak” tanpa fikir panjang aku langsung menjawab.
            Tak selesai sampai disitu dia tetap bersikeras ingin aku mengenal temannya itu “ayolah, namanya luigi, kami manggilnya lui, anaknya baik kok, tampang ngak jadi masalahlah kak” dia terus melihat kearahku yang sibuk mendengarkan musik “ngak berani loh aku dek, kau taukan” aku hanya melihat dia sekilas “maksudnya kau mau gini gini aja?” dia seakan marah keaku. Ya, aku juga ngak tau kenapa dengan aku sekarang, masalah yang kualami membuat aku belum mau untuk mengenal laki-laki lagi. Ntahlah, ntah sampai kapan yang jelas yang kutau dia yang pernah sangat-sangat aku sayangi harus aku lepaskan begitu saja bukan tanpa sebab dan bukan sebab yang sepele hanya saja aku sangat sulit menjelaskan rasa sedih yang aku simpan sangat sangat lama.
            “kak, nomormu kukasi aja ya sama lui, biar kalian kenalan” dia tak putus asa memintaku supaya mau membuka hati “aku belum mau dek” aku tak akan pernah berani menatap wajahnya, karena dia pasti sangat kecewa “aku uda cerita sebagian kok tentangmu dan dia mau, anaknya baik kok, kayaknya tanggung jawab gitu, mau ya” kuberanikan melihat kearahnya “kenapa seh harus diceritain?” aku melihat kearahnya “ya biar nanti ngak salah paham gitu” aku yang sedaritadi fokus dengan lagu yang berulang yang kuputar di androidku “umur berapa?” tanyaku memberanikan diriku “sama kayak aku kelahirannya” dia menjelaskan umur temannya itu “matek, kecil kali” teriakku tanpa sadar sambil ketawa “sudahlah, yang dulu juga tua sifatnya kayak bocah” adikku itu bergumam sendiri “hahaa… iya iya, siapa kemarin namanya” tanyaku lagi “lui, namanya luigi” aku memicingkan mataku “aneh ya namanya, ya udah kasilah nomorku” akhirnya adikku berhenti mendesakku.
            Bukan waktu yang lama kamu langsung chat keaku, ntah aku lupa apa isi chat pertamamu yang jelas kamu hanya menyapaku, mungkin “hai” lama? ya bukan waktu yang sebentarkan kau butuh balasan dariku. Aku tak berani untuk membalas chat darimu karena aku hanya memikirkan hal yang negatif, mungkin saja kamu ingin mengenal aku hanya ingin tau ceritaku lebih banyak. Hingga akhirnya aku membalas pesan yang ada “iya, ini siapa” pura-pura aku bertanya padahal ketika masuk ke room chat jelas-jelas namamu sudah tertera “aku lui, tau ngak?” awalnya aku merasa kamu itu sok kePDan hingga aku menjawab “iya” itu kalau aku tak salah awal kita memulai semuanya.
            Aku tak berharap banyak akan apa yang kau fikir dan rasa tentang aku. Kau yang kukenal dengan sikap agresifmu yang awalnya membuat aku takut dan merasa risih, aku hanya menyakinkan diriku ‘cobalah hai kau hati’ ya, itulah yang aku fikirkan pertama sekali. Kita asik berbalas pesan, hingga aku mengetahui banyak hal yang membuat aku terkejut akan siapa dirimu. Chat yang kau berikan padaku membawa aku kemasa yang mungkin ngak pernah aku rasakan dimasa-masa remajaku yang seharusnya aku dapat kata-kata darimu dimasa-masa sma atau kuliahku.
            Aku tak punya rasa apapun saat itu padamu karena aku tak mengenalmu dengan sangat jelas, terkadang sifat dewasamu membuat aku benar-benar merasakan sosok yang benar-benar baik buatku dan terkadang pula kau jadi sosok yang 180 derajat berbanding terbalik, sifat kekanakanmu mau muncul mendadak yang terkadang membuat aku merasa bersalah dan seakan kau ingin mengejekku.
            Aku tak mengingat banyak isi pesanmu padaku, hanya saja sebelum kita bertemu kau sudah terlalu berani untuk memanggilku dengan sebutan sayang, babe, cinta dan yang lainnya. Aku sangat risih dengan kata-katamu, tapi aku mencoba mengambil sikap membiasakan kata-katamu itu beranggapan bahwa ini memang jamannya alay yang seperti itu. Aku menikmati saat aku selalu sama-sama denganmu berbalas pesan, hanya saja aku seakan merasa sesuatu membuat aku tak bisa semakin jauh untuk mengenalmu. Aku takut kau mendekatiku dengan rasa penasaranmu semata, ntahlah, ceritaku ini kubuat senatural mungkin dengan versi dari diriku.
            Aku mengikuti yang dimau adikku, membuatkan 1 lagi kacamata, kuberanikan diriku datang kekantor (yang berketepatan pula sebuah mall), tempat adikkku bekerja sekaligus kamu juga. Awalnya aku tak ingin bertemu denganmu, hanya saja saat itu aku ingat sama isi chat yang kau berikan padaku,‘kalau sempat jalan-jalan kekantor, tempat aku kerja ya’ ya itu satu chat yang membuat aku dengan cepat menulis pesan padamu, hanya untuk mengatakan aku ada disini sekarang, sanagt dekat denganmu.
            Awal pertemuan yang sangat aneh buatku, membayangkan aku bukanlah wanita diumur yang dikatakan remaja lagi melainkan dewasa. Pertemuan yang membuat, akh ntahlah ntah apa yang kurasakan saat itu tapi yang jelas aku mencoba mempositifkan tiap apa yang kau lakukan padaku {membayar makanku, ya walaupun buat oranglain itu hal sepele tapi buatku itu sangat berarti, memegang tanganku saat tanpa sengaja ada orang yang ingin menyenggolku dan kau mengatakan ‘hati-hati’, saat itu ntah apa yang masuk didalam hatiku, tapi dia seakan-akan sangat riang, seakan ingin berlarian keluar}. Aku sangat senang, itu yang hanya bisa aku katakan padamu, jika kau menanyakan apa yang kurasakan. Bercanda denganmu, dengan kekakuanku, aku hanya menatapmu dan mendengar setiap kata yang kau bicarakan. Ntahlah, hanya saja aku masih sangat susah membawamu masuk kedalam hidupku, aku hanya takut, kau mendekatiku hanya karena kau sekedar penasaran padaku.
            Selalu tiap malam sekarang aku membiasakan diriku berbalas pesan chat denganmu, ntah, tapi setiap saat itu pula aku merasa kau seakan ingin melihat aku marah, ngak tau kenapa, tapi setiap pembicaraan kau seperti ingin aku kesal, marah atau apalah itu. Sekalipun kucoba sebisa mungkin mendamaikan hatiku, tapi kau tetap tak ingin berhenti. Apa yang salah dengan sikapku yang tak mampu bicara atau marah sekalipun. Aku hanya mencoba buat yang terbaik padamu, karena kau juga sudah membuat aku mencoba untuk percaya lagi dengan perasaan. Aku selalu sangat menyukai memangil namamu dengan sangat lengkap sesaat setelah kamu mengatakan namamu. Aku menyukai cara diriku sendiri memanggil namamu yang benar-benar aneh kurasa. Hai kau, ntahlah aku tak tau apalagi yang ingin aku katakan tentangmu.
            Bukan hanya berbalas telfon, kita juga mulai memberikan respon yang baik dan aku mulai berani untuk membuka hatiku. Telfon, video call, aku mencoba berani dengan semuanya itu. Rayuan yang tiap malam kau berikan ke aku hingga aku mampu menutup mataku dengan sangat larut. Aku dan dengan sikap kakuku mulai kuredakan hanya karena ingin mengenalmu lebih dan mencoba berfikir positif ‘hufffttt…hai hati, apa kau bahagia sekarang’, itu mungkin sekedar mantra buatku untuk menenangkan hatiku. ‘Hai kau yang sudah mencoba memasuki perasaanku, apa yang fikirkan saat ini tentangku, hmm apa?’.
            Kau mencuri perhatianku dipertemuan kedua kita, saat dimana aku sangat-sangat ingin memulai semuanya dengan sangat natural, ya mungkin karena aku sangat ingin ada yang menganggap aku benar-benar berbeda dan spesial baginya.
            Belum bertemu denganmu, aku serba salah, sampai penampilanku saja sangat kuatur, aku takut kamu malah jadi aneh melihatku. Beberapa waktu denganmu dengan chat dan telfon membuatku tersadar kau, seseorang yang tak menyukai oranglain yang tak sesuai dengan dirimu, dan itu aku coba terima, ya lagi-lagi alasannya karena aku sadar dengan diriku sendiri.
            Menunggumu cukup lama, hmmm bukan…, aku yang terlalu kecepatan saat itu, upsss… tapi kamu juga telat, hampir saja aku memutuskan untuk balik. Hingga sebuah nomor tertera dihandphoneku. Sangat aneh, semalam sebelumnya aku mengingatkan bahwa aku tak mempunyai nomor handphonemu. Dengan cepat aku menjawab telfonmu ‘aku disini’jelasku padamu. Hingga pertemuan terjadi, dari jauh aku sudah sangat jelas melihatmu. Aku tak mengatakan padamukan aku sangat deg-degan, ya, aku sangat salah tingkah, ini memang bukan pertemuan pertama kita, tapi ini merupakan kencan pertama kita. Dengan salah tingkah aku berjalan kearahmu. Aku tak berani melihatmu bukan… menatapmu, hehehehe… saat itu jantungku ngak karuan, mungkin kamu merasa aku terlalu berlebihan, tapi ya ini yang kurasa.
            Kencan pertama dengan dirimu yang ntahlah saat itu ntah apa yang kau fikirkan tentangku, aku hanya merasa aku bahagia. Jalan berdua denganmu, ini bukan kencan pertamaku tapi ini sangat-sangat membuatku berbeda. Kau mencuri hatiku, ntahlah awalnya aku merasa ini hanya pelampiasanku karena belum punya pacar atau hanya sekedar aku ingin mencoba mencintai orang baru dengan diriku ya kuharap juga baru.
            Jalan berdua denganmu, caramu memegangku saat aku mulai mempercepat jalanku, yang padahal tanpa kau sadari aku sangat-sangat deg-degan, banyak yang sudah aku pertanyakan dalam kepalaku~apalagi yang akan kami lakukan, apa yang harus aku katakan, dan yang lainnya. Semua seakan tertumpuk dikepalaku~. Kita mencoba mencari film apa yang akan kita tonton diawal pertemuan kita ini. Aku bukan seseorang yang egois yang menuntut apapun yang ada dikepalaku. Film sudah kau tentukan, kita hanya menunggu sambil bergurau dibangku bioskop. Awal yang cukup aneh, aku dengan tingkahku kau dengan dirimu. Tapi aku mulai menyadari satu hal dari dirimu, rasa humorismu yang membuat aku terkadang takut. Terkadang rasa humorismu mendadak seperti sangat ingin menguasai, kita tertawa tapi kau seperti ingin mengatakan, tahan ketawa, saat kau ingin bicara dan bilang ingin mendengar ceritaku, tapi seakan tak ingin mendengar ceritaku. Tapi aku masih sama dengan dina yang tak menggantungkan diriku dengan ego, aku hanya bisa tersenyum dengan dirimu, seseorang yang semakin aku kenal semakin membuat aku tak mengenal dirimu.
            Ruang bioskop yang ramai, kita mulai memasang wajah yang cukup tegang saat filmnya mulai. Ngak salah dengan pilihan film darimu, aku menikmatinya. Aku mencoba senyaman mungkin saat bersamamu. Aku menawarkan permen denganmu. Tapi apa kau tau apa yang selalu aku fikirkan ‘siapa aku buatmu, sekedar temankah?, kekasihkah? Atau aku hanya seseorang yang ikut dalam humormu saja’, itu sangat menggangguku, tapi aku merasa kau sangat cuek saat itu. Tak apa, kutahan dulu, mungkin kau akan sangat sulit menentukan hubungan antara dirimu dan dirimu, ya lagi-lagi aku berfikir, semua karena statusku.
            Saat itu aku mencoba konsentrasi dengan film didepan mataku. Kusingkirkan jauh-jauh saat itu perasaan dan fikiranku akan pertanyaanku. Aku tak ingin merusak kencan pertamaku denganmu. Aku hanya ingin kencan pertama ini paling ngak bukan jadi kencan terakhir denganmu.
            Keluar bioskop, huffftt, aku menghela nafas panjang, sukses. Aku seperti seleksi dan harus melaksanakan setiap seleksi ini. Didepan kita berjalan pasangan yang kau katakan cabe-cabean dan yang buatku itu malah membuatku jadi salah tingkah denganmu.